Kamis, 04 Juni 2009

mommy

Bunda

Suatu kali datanglah seseorang kepada Rasulullah SAW, dan bertanya, ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak saya hormati dan patuhi sebaik-baiknya?” Beliau menjawab, ”Ibumu.” Ia bertanya, ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”Ibumu.” Ia bertanya, ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”Ibumu.” Ia bertanya lagi, ”Kemudian siapa?” Beliau menjawab, ”Ayahmu.”
Tidak diragukan lagi bahwa di dalam Islam, kedudukan seorang ibu sangat dihargai dan dihormati. Rasulullah telah mencontohkan betapa beliau sangat menghormati ibunda yang melahirkan dengan berbakti sepenuhnya, meski kebersamaannya tidak begitu lama.
Konteks dalam Tajuk kali ini adalah bahwa hari ini adalah Hari Ibu. Hari yang sangat tepat untuk mengingatkan kembali kepada kita betapa besar jasa dan pengorbanan seorang ibu kepada anak-anaknya, termasuk kita. Selama ini, di tengah kesibukan sehari-hari, terkadang kita lupa terhadap peran dan jasa seorang ibu.
Peringatan Hari Ibu, selain sebagai perenungan dan mengingatkan kembali akan peran dan jasa ibu, sekaligus juga merupakan momen untuk mengenang jasa-jasa besar wanita perkasa di negeri kita. Karena, sejarah Hari Ibu tak lepas dari semangat yang diletupkan oleh para pejuang wanita tersebut.
Penetapan Hari Ibu mengacu pada diadakannya Kongres I Perempuan Indonesia yang dilaksanakan pada 22 Desember 1928 di Yogyakarta. Kongres itu bertujuan mempersatukan organisasi wanita untuk mencapai kemajuan wanita, dan juga merumuskan bagaimana wanita makin berperan dalam perjuangan bangsa.
Kongres itu sendiri diilhami keberanian para pahlawan wanita masa sebelumnya seperti Cut Nyak Dien, Dewi Sartika, RA Kartini, Nyai Achmad Dahlan, dan Christina Tiahahu. Mereka adalah wanita-wanita yang mempertaruhkan diri untuk kemajuan perempuan dan sekaligus memperjuangkan kemerdekaan.
Mengingat betapa pentingnya arti semangat para perempuan tersebut, oleh Presiden Soekarno dibuatkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Kongres itu ditetapkan sebagai hari nasional yaitu sebagai Hari Ibu. Maka, setiap 22 Desember dirayakan secara nasional.
Hari Ibu di negeri kita sangat berbeda dengan Mother’s Day di Amerika dan negeri Barat lainnya. Di sini, Hari Ibu bukan hanya menghargai jasa wanita dalam konteks keluarga sebagaimana mereka, melainkan dalam kerangka yang lebih menyeluruh yakni wanita sebagai pejuang dan warga negara yang akan terus mengisi kemerdekaan.
Hari Ibu dilambangkan sebuah gambar berupa setangkai melati dengan kuntumnya. Di situ setidaknya menggambarkan suatu kasih sayang kodrati antara ibu dan anak, kesucian, kekuatan dan pengorbanan ibu, serta keikhlasan wanita dalam membangun bangsa dan negara.
Maka, di Hari Ibu ini marilah kita mengingat kembali jasa dan pengorbanan yang telah ibu berikan kepada kita, doakanlah dia, sambangilah dia. Sekaligus juga dalam hari istimewa bagi kaum wanita ini, kita mengingat kembali jasa-jasa pahlawan wanita yang ikut berjuang memerdekakan bangsa ini.
http://opini.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar